Naas, terkena tilang jam 12 malam

Malam minggu tanggal 30 mei 2015. Sya dan tim kerja Kopdar bareng di warung kopi tempat biasa kita ngabisin malam. Tepatnya si di waddaddah coffee shop di pas pertigaan Jl gegerkalong-sukahaji. Waktu itu tak terpikir harus melengkapi alat dan kelengkapan berkendara seperti helm karena jarak tempat coffee shop tidak jauh dri rumah (sekitar 250m) dan lagian pulangnya malam mana mungkin ada hal2 yang tidak diinginkan.

Seperti biasa kita ngobrol2 dan menikmati kopi dan kudapan dri coffe shop ini hingga tak terasa waktu menunjukan pukul 12.00. Karena tempatnya mau tutup akhirnya kita bergegas pulang. Tak terbersit apapun akan ada operasi kendaraan bermotor, selain karena waktu yang sudah sangat larut hampir dini hari.

Namun aral tak bisa ditolak. Di belokan gelap walaupun ada penerangan yg sengaja dimatikan, lampu motor menyorot rompi berwarna stabilo milik beberapa petugas polisi yang dengan sigap menghentikan laju motor. Seketika juga dengan tegas polisi menghardik “ini kenapa nggak pakai helm, minggir2 kedepan. Ayo minggir” tegas pak polisi. Sya pun tak bisa melawan cuma meminggirkan motor.

Dengan nada yang masih tinggi (sepertinya kewajiban setiap melakukan tilang awal mulanya harus kelihatan menyeramkan :d) polisi tersebut meminta surat2 kendaraan. Untungnya walaupun tidak memakai helm sya masi membawa sim dan stnk. Walaupun stnk yg dibawa salah hahaha. Waktu ini sya malah bawa stnk mobil dan motor adik saya. Setelah sya mampu memperlihatkan surat2 kendaraan mulai lah pak polisi tadi menasihati kami dengan mantapnya.

Singkat cerita saya membisiki pak polisi untuk tidak menilang apalagi harus sidang karena pasti menyita waktu. Sya meminta cara lain untuk berdamai. Lucunya polisi malah mulai melunak. Dari berbicara menggunakan bahasa indonesia seketika jadi bahasa sunda. Jahahaha.. Tapi sayangnya ketika itu malah datang rombongan polisi yang lain ke tempat kita di tilang. Akhirnya tidak ada jalan lain untuk terus membubuhkan nama saya di kertas merah.

Untun diketahui, perbedaan surat tilang merah dan biru adalah apabila surat tilang merah adalah kita mengakui kesalahan dan kita siap untuk melakukan persidangan. Tapi surat tilang biru adalah kita siap membayar pelanggaran tersebut sesuai besaran denda dan itu dibayarkan via bank BRI.

Naah, karena kalau bayar via BRI mahal kalau nggak salah skitar 100-200rb dan kita ingat bahwa kata teman kalau sidang itu murah cuma bayar sktar 25-50rb plus kita belum pernah sidang akhirnya disepakati untik mendapatkan slip merah yang artinya kita melakukan persidangan dipengadilan negeri Bandung tanggal 12 juni 2015 pukul 09.00.

Sambil terus menggerutu saya sebelumnya meminta untuk tetap tidak ditilang saya malah sempat menanyakan polisi apabila dia suka batu akik atau nggak. Tapi dia tetap menolak dengan alasan tidak suka.

Naah bagaimana kelanjutan ceritanya? Simak terus disini ya


Tinggalkan Pesan Sobat

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s