Merongrong dan tak tahu diri

mungkin itulah kata yang tepat untuk kusebut saat ini terhadap kejadian yang telah menimpaku. terhadap karyawan yang aku bantu dan aku berikan gaji besar tapi dibelakang menusukku dengan cara yang menyakitkan.

5 bulan yang lalu aku membuka usaha konveksi, tadinya ini sebagai solusi untuk mengatasi kesulitan dalam produksi usaha pakaianku.  sebelumnya seluruh produksi dilakukan secara makloon dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. namun darisana, aq dan partner aku melihat bahwa ada celah dimana kita bsa memperoleh hasil lebih dengan meningkatkan kualitas produksi apabila kita memiliki produksi sendiri. maka terwujudlah ide membuat konveksi itu sendiri.

5 bulan yang lalu itulah aku bertemu dengan sebuah keluarga di daerah Cilisung, Sukamenak, Kab Bandung sebuah keluarga yang serba kekurangan (indikasinya adalah rumahnya masih mengontrak, hidup pas-pasan n tidak memiliki pekerjaan tetap) namun handal dalam segi jahit dan memola pakaian. awalnya aku berniat untuk memakloonkan produksi aku juga di keluarga tersebut, tapi aku berfikir ini kesempatan kalau seandainya aku mengajak keluarga tersebut untuk bekerja sama mengelola usaha konveksi aku suatu saat.

5 bulan yg lalu itulah aku menawarkan proyek aku tersebut, dan keluarga tersebut merespon positif apalagi dengan tidak memiliki pekerjaan sementara kontrakan harus dibayar dan tentunya harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. mereka merespon dengan senang, tapi mereka menolak untuk bekerja jauh dari rumah mereka karena alasan transportasi dan faktor umur (walaupun umurnya masi 40 thn-an). dari sanalah, aq menawarkan peluang lain untuk membiarkan keluarga tersebut mencari rumah di sekitaran rumahnya untuk di tempati sebagai konveksi. maka berselang beberapa hari didapatkan rumah kontrakan yang lumayan besar dan bagus. Rumahnya 2 lantai dan sangat kokoh. harga rumah tersbut 20jt/thun dan pemilik rumah menginginkan 3 tahun tanpa over kontrak. namun aku meminta kpada keluarga tersebut untuk melobi tempat tersebut kepada sang pemilik rumah, dan pada akhirnya diperolehlah rumah dengan harga 15jt/thun dan bisa cuma 2 tahun, itu pun pembayarannya dicicil selama 2 kali. dari pengalaman itulah aku merasa keluarga tersebut sangat berjasa.

selanjutnya bagaimana konveksi itu bisa berjalan dengan pengalaman yang nihil, aq menyandarkan sepenuhnya pada keluarga tersebut apalagi mereka punya pengalaman pernah mendirikan usaha yang sama namun bangkrut. aq meminta pendapat tentang permesinan, penetapan lokasi, bahkan penjahit pun aku minta dari keluarga tersebut. pada intinya mereka begitu berjasa dalam membangun bisnis konveksi ini.

setelah kontrak rumah itu terjadi, maka darisana butuh sekitar 10 hari persiapan untuk langsung berjalan. dan setelah berjalan, disanalah mulai aku melihat sebuah kecurigaan besar terhadap kesetiaan keluarga tersebut. Baru 2 minggu berjalan, sang istri dari keluarga tersebut menghadapku mencurahkan semua permasalahannya kepadaku, berbicara dengan berbagai cara supaya aku ikut terhanyut dan empati dengan semua permasalahannya. Inti permasalahannya adalah terletak pada hutang dan itu mencapai puluhan juta, dia menangis tersedu seolah menumpahkan semua permasalahannya kepadaku. di satu sisi, aq telah diberikan jasa oleh keluarga tersebut disisi lain aku melihat kejanggalan ada seorang karyawan yang baru bekerja sama baru setengah bulan sudah berani untuk meminjam dalam jumlah yang sangat besar. kalau tidak aku bantu, mereka telah membantu aku dan aku khawatir usaha yang baru berjalan seumur jagung jadi kurang enak kondisi kerjanya.

akhirnya dengan penuh pertimbangan, aku dan partner2 ku memutuskan untuk memberikan pertolongan dan waktu itu jumlahnya hampir mencapai Rp. 10 jt. aku kira ini akan selesai dan mereka dapat bekerja dengan tenang, namun ternyata itu salah. selang beberapa minggu kedepan mereka meminjam lagi uang dengan berbagai macam alasan, dan selalu ada omongan implisit dimana mereka memiliki jasa besar yang seolah belum terbayarkan. beberapa kali aku menolak tapi dengan alasan tangisan, aku seolah terhipnotis dan akhirnya memberikan pertolongan lagi dan lagi sampai aku hitung totalnya sudah meminjam uang 5 kali dalam 4 bulan jalannya konveksi tersebut.

yang membuat aku tidak percaya, pernah suatu kali meminjam uang dengan alasan untuk biaya perpisahan anaknya, untuk kontrakan dan untuk lain-lain tpi ternyata beberapa hari kemudian keluarga tersebut mengambil kredit motor baru.. dangggggggg… hatiku serasa marah besar mendengar hal tersebut, namun ketika aku konfirmasi mereka seolah tidak ada masalah dan tidak ada malunya. dari sana aku mulai tahu betul karakteristik orang tersebut, karakteristik keluarga tersebut yang itu sangatlah kontras dengan yang aku tahu di awal2 pertemuan.

ditengah permasalahan yang melanda keluarga itu, seharusnya dibalas dengan kualitas pekerjaan yang baik pula. kejadian sebaliknya adalah pekerjaannya mereka ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. sang suami bekerja sebagai tukang pattern (pola) merangkap cutting (potong) yang seharusnya bisa mengirit bahan supaya bisa memperoleh hasil yang maksimal tanpa merusak pola. tapi nyatanya kerjanya seperti seadanya, banyak bahan yang terbuang banyak bahan sisa yang disia-siakan. anehnya sekali aku berbicara hari itu dilakukan tpi besoknya dilupakan. begitupun dengan supervisor yang aku percayai, ketika dia memerintah kepada tukang cutting itu, hari itu dilaksanakan tapi selanjutnya tidak. sempat aku berpikir harus memberhentikan orang ini, tapi aku masi melihat jasa-jasanya. aku pun masi ada uang hutang di mereka (walaupun tiap bulan dipotong dari gaji). yang paling aku takutkan adalah saat dimana dia merasa dipecat dan akan ada sesuatu dibelakangnya apalagi disinyalir orang tersebut adalah mantan preman setempat. intinya aku sangat serba salah dengan kondisi ini.

terkait masalah hutang lagi, yang paling membuat aku sakit hati adalah saat aku memberikan pinjaman kepada mereka, alasannya adalah mereka ingin meminjam uang ke Bank tapi harus melunasi hutangnya terlebih dahulu. tapi ternyata uang yang aku pinjam mereka pakai untuk membeli handphone baru (karena pada saat itu aku memberikan kredit handphone kepada penjahit yang lain sebesar @625rb). aku semakin mengerti bahwa mereka ternyata keluarga yang konsumtif yang panasan yang tidak rela melihat orang lain mempunya. setelah kejadian itu aku marah besar sampai aku tidak membiarkan beliau berhadapan dengan ku lagi, aku marahin sebesar2nya sampai aku kira aku belum pernah marah besar seperti kepada karyawan ataupun kepada orang lain diluar pekerjaan.

namun anehnya banyak kejadian2 terjadi setelah kejadian tersebut. aku pernah kehilangan handphone di konveksi dan yang paling terbaru adalah aku kehilangan barang. memang tidak terlalu besar cuma 1 mesin cutting dan 5 rol bahan (kalau ditotalkan senilai 2,6 jt) tapi yang aku rasakan adalah ketidaknyamanan dari menjalankan usaha itu sendiri. kekhawatiran akan barang, ketidaknyamanan melihat pegawai yang bekerja seadanya. maka dengan bulat hati aku tutup usaha tersebut sejenak dengan segala konsekwensinya. aku kira ini jawaban yang tepat bagi para pembangkang yang tidak tahu di untung, menggadaikan jasa mereka untuk memeras bos yang baik yang bertanggungjawab terhadap diri dan keluarganya. bagi aku, mereka sudah ada di lumpur dan memang pantasnya tetap berada di lumpur dengan segala tingkah laku mereka. aku tidak memikirkan berapa uang hutang yang ada pada mereka yang aku pikirkan saat ini aku bisa melanjutkan perjalanan produksi supaya supply ke toko masih tetap lancar.

Maka, barang2 yang siap jahit aku bawa ke tempat makloonan yang dulu, selain itu mesin-mesin aku bawa ke gudang d dekat toko karena khawatir akan effek setelahnya. bagi aku dan partner, usaha apapun harus dijalankan dengan suatu ketenangan dan kenyamanan, ketika dua hal tersebut sudah tidak ada mengapa lagi harus di jalankan usaha tersebut. dan aku melihat dari jalannya 5 bulan konveksi tersebut, kesalahan dan kerapuhan itu sangat sistematis, maka dengan berat hati seluruh pegawai aku berhentikan (total 11 orang) termasuk tetangga yang aku bawa 3 orang mereka harus menjadi korban pemberhentian juga. segera setelah aku tutup aku mudik menemui keluarga aku di Sukabumi, meminta doa sujud di hadapan kedua orang tuaku, selain itu aku juga menemui orangtua pegawai tetangga aku yang aku bawa. aku meminta supaya mereka menerima keadaan yang bisa dibilang bencana ini. dan alhamdulillah mereka menerima.

sobat, bagi aku saat ini, aku ingin menenangkan diri sejenak dan ketika harus mengambil keputusan aku harus mengambilnya dengan penuh kematangan. akan kujadikan pengalaman ini sebagai pengalaman dan pembelajaran untuk aku kedepannya. aku tidak putus asa dengan adanya permasalahan ini aku buat sebagai cambuk untuk aku sukses kedepannya. dan aku selalu berdoa semoga aku dijauhkan dari orang2 diatas yang merongrong kebaikan bos.


8 thoughts on “Merongrong dan tak tahu diri

  1. Keputusan Anda benar, mudah-mudahan anda diberikan kesabarandan dan Allah akan mengganti-Nya dengan berlipat ganda. Sesungguhnya orang yang culas, zolim adalah orang yang sedang menggali kuburannya sendiri..wss

  2. Jaman skrg memang susah-susah gampang menilai org. Butuh waktu, feeling dan logika. Semoga kita bs mengambil hikmah yg terjadi. terima kasih share nya. salam kenal.

Tinggalkan Pesan Sobat

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s