Alhamdulillah Wisuda
Pertama-tama Saya ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas berkah dan karunia-Nya masih memberikan nafas hingga saat ini. Kepada Keluarga yang selalu mendukung seluruh cita dan juga kepada sahabat, teman dan semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu
Alhamdulillah rasa dahaga ingin menyelesaikan studi telah direguk. Tanggal 17 April 2013 kemaren saya berkesempatan menyelesaikan studi di jurusan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia. Hari rabu yang penuh makna itu telah menggoreskan satu babak baru dalam kehidupan saya; seorang Fajar Jajuli, S.s.
Bagi saya pribadi, gelar itu bukan yang ingin dicapai dalam hidup tetapi dengan gelar ternyata bisa membuat kedua orang tua begitu bahagia. Begitu keluar dari tempat wisuda dilaksanakan (gymnasium UPI, red) seketika kedua orang tua memeluk penuh suka dan bangga. Bahkan Ibu sempat berurai air mata seraya memberikan bunga melihat pencapaian sang anak yang lengkap dengan pakaian toganya.
Bahagia minta ampun buat saya, karena tidak hanya orang tua yang datang tetapi ada keluarga paman, sahabat terdekat dan kekasih pun datang mengucapkan “selamat wisuda”. Itu adalah momen yang paling berharga dalam hidup yang mungkin tidak akan anda dapatkan dikesempatan lain.
Seperti yang telah dikatakan diatas, ini adalah babak baru dalam kehidupan saya. Dimana lembaran baru seorang pribadi sosial yang akan mengarungi kehidupan yang sesungguhnya (real life, red). Alam semesta pun ikut mengucapkan:
“Welcome Fajar Jajuli, S.s.”
Adik Bungsuku Makin Cantik
Setelah lama tidak mudik (pulang kampung) 2 minggu lalu aku pulang. Sewaktu pulang kemarin memang aku memiliki kerinduan yang kuat, terutama sama adik bungsu perempuanku. tentunya ketika pulang aku menelepon dia untuk dibawakan oleh-oleh keinginannya. Dia kini semakin besar dan semakin cantik. Aku hanya punya 1 adik perempuanku dan dia anak bungsu makanya aku dan adik-adikku yang laki-laki sangat menjaga dia dan tentunya membawa konsekuensi sedikit memanjakannya.
Naah, pas pulang kemaren kebetulan aku memfoto dia sebagai kenang-kenangan kalau aku sudah kembali ke Bandung. Berikut adalah dokumentasinya
- Muthya Fitri Nursalima
Naah gimana cantik bukan?? hehehe
Kebunku
Hi temen2, kemarin aku mudik mengunjungi keluarga nan jauh disana, aku juga tidak lupa mampir melihat kebun masa depanku. Lumayan walaupun masih pada kecil setidaknya ada harapan buat panen 5 tahun kedepan
#buat beli rumah hehehe. Kebunku ini ditumbuhi pohon sengon atau yang terkenal dengan nama albasia, cuma setelah ditinggal kekeringan karena kemarau panjang, bulan-bulan ini sering turun hujan dan ketika aku mampir ternyata kebun sudah banyak sekali rumput liar yang memenuhi tetumbuhan disana. Perlu dibersihkan lagi, dipupuk lagi hingga usia matang bisa ditinggalkan sampai besar.
Ini adalah foto dokumentasi kebunku, pohon yang dipegang adalah pohon sengon yang sudah tumbuh hampir setahun. Semoga tumbuh dan bisa ditebang pada waktunya ya hehehe
Live Your Life With Passion

take-your-passion
Mengawali tulisan ini, saya tertarik dengan ucapan yang mendalam dan sangat filosofis yang
diucapkan oleh guru imajiner saya yaitu Adi W Gunawan seorang Re-educator dan penulis buku best
seller. Karena saya yakin banyak diantara kita yang tidak paham apa itu hidup, mengapa kita hidup,
dan untuk apa kita hidup. Bahkan banyak orang yang menjalani hidup ini cuma sebatas menunjukan
eksistensi, numpang hidup di dunia, atau bahkan hanya sebatas sebagai pelengkap, itupun
pelengkap penderitaan.
Sistem pendidikan yang adapun belum mampu untuk bisa menghasilkan lulusan yang bisa
menjawab pertanyaan diatas. Apalagi untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kualitas dan
mental yang bagus, serta menghasilkan manusia-manusia yang bijak yang bisa bermanfaat buat
sesama. Sehingga tidak heran kalau Topatimasang (1998) mengatakan pendidikan tidak ubahnya
seperti candu yang memabukan, yang membuat banyak orang yang terlena dan terbius sehingga
tidak bisa mengenal realitas yang ada disekitarnya. Tentunya ini bertolak belakang dengan apa yang
inginkan oleh salah satu tokoh pendidikan dunia Paulo Freire yang melontarkan tentang tujuan akhir
upaya proses pendidikan adalah adalah memanusiakan manusia (humanisasi) yang berarti
pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi batas yang menindas dari kehendak kita.
Pada prakteknya sistem pendidikan tidak mengakui bahwa manusia itu sosok yang unik, artinya
sosok yang satu akan berbeda dengan sosok yang lain. Buktinya untuk bisa mengukur kecerdasan
seseorang masih saja menggunakan kecerdasan tunggal yaitu kecerdasan inteletual, yang bisa
terlihat dari ketrampilan menghitung, merinci, dan menganalisis. Tidak heran kalau nilai raport dan
IPK menjadi ukuran kebanggaan yang mutlak bagi anak didik dan orang tua sehingga tidak jarang
banyak yang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang bagus. Hal inilah yang
menyebabkan Adi W. Gunawan mengatakan dengan bahasa provokatif bahwa sekolah hanya
dirancang untuk menghasilkan orang-orang gagal.
Padahal sudah sejak lama Howard Garner menemukan bahwa dalam diri seseorang terdapat
kecerdasan yang majemuk, artinya seseorang memiliki beberapa kecerdasan yang antara satu
dengan yang lain berbeda ukurannya. Kecerdasan tersebut yaitu linguistic, logical-mathematical,
bodily-kinesthetic, spatial-visual, musical, intrapersonal, dan interpersonal. Bahkan diawal tahun
1990-an Daniel Golemen menemukan sesuatu yang menggemparkan bahwa kecerdasan intelektual
hanya berpengaruh 20% terhadap kesuksesan dalam hidup. Selebihnya itu ditentukan oleh
kecerdasan lain (kecerdasan emosional). Kecerdasan emosional yaitu kecerdasan untuk mampu
memahami diri sendiri sehingga bisa memahami orang lain dan bisa membina hubungan baik
dengan orang lain.
Dalam perjalanannya, saya banyak menemui mahasiswa yang belum memahami betul tentang hal
tersebut diatas. Sehingga mereka menjalani kuliah hanya sebatas rutinitas balaka. Berangkat pagi
hari untuk mengikuti kuliah, datang langsung duduk manis dan mendengarkan apa yang dikatakan
oleh dosen, dan pulang setelah dosen selesai mengajar, pergi ke perpustakaan itupun kalau sempat
dan tidak menggangu waktu bermain. Sedikit sekali diantara mahasiswa yang mau menggunakan
waktu sisanya untuk melakukan aktivitas yang bisa menggali dan mengembangkan potensi diri
seperti kegiatan berorganisasi di dalam maupun di luar kampus. Banyak yang tidak mau keluar dari
zona kenyamanan (comfort zone) untuk menerima tantangan dan kesulitan yang lebih dari hanya
sekedar aktivitas kuliah.
Kata berorganisasi bahkan menjadi kata yang tabu dan sangat dihindari bagi sebagian mahasiswa
dan menganggap hanya membuang-buang waktu saja. Padahal dengan ikut berorganisasi itu artinya
kita kuliah lagi di Hard University, universitas kehidupan yang berisi kesulitan dan tantangan, yang
mengharuskan kita untuk senantiasa belajar, belajar dan belajar. Dalam organisasi kita belajar
bersosialisasi, belajar menerima perbedaan pendapat, belajar menerima tanggung jawab, dan
belajar menghadapi masalah dan kesulitan. Pelajaran berharga inilah yang tidak didapatkan di
bangku kuliah dan di pendidikan formal. Sehingga ketika kita lulus dari Hard University ini kita akan
menjadi pribadi yang kuat dan bijak dalam menghadapi masalah.
Bahkan banyak contoh yang gagal di dunia pendidikan formal, tapi dia berhasil di dunia nyata.
Orang-orang seperti Thomas A Edison yang hanya sekolah beberapa bulan tapi ternyata bisa sukses
menjadi penemu lampu pijar dan memegang hak paten lebih dari 3000 hasil temuan. Atau bahkan
Sosok Andrie Wongso yang menjadi motivartor no 1 indonesia, yang mempunyai gelar Andrie
Wongso SDTT, TBS. Gelar yang unik yang tidak ada di lulusan pendidikan formal manapun, yaitu
Sekolah Dasar Tidak Tamat, Tapi Bisa Sukses. Itulah sosok yang gagal total dalam pendidikan
formal tapi bisa sangat berhasil dalam kehidupan nyata.
Tentunya kita bisa bersyukur karena kita mempunyai kesempatan yang tidak dimiliki setiap orang
untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi. Oleh karena itu gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya,
dengan mengisinya lewat aktivitas yang bermanfaat. Jalani setiap aktivitas tidak hanya menjadi
rutinitas belaka, berikan nilai tambah terhadap sesuatu yang kita kerjakan. Hidupkan segala potensi
yang kita miliki, agar bisa berkembang secara maksimal. Mengambil istilan Steven R. Covey, asahlah
selalu gergajimu. Niatkan dalam melakukan segala aktivitas untuk selalu belajar, karena ketika kita
hidup untuk belajar maka kita akan belajar tentang hidup. SALAM SUKSES!!!
Oleh : Guntur Novizal
HENDY SETIONO – CERITA SUKSES KEBAB BABA RAFI
KEBAB TURKI BABA RAFI
Hendy Setiono ini adalah seorang motivator bagi saya yang sedang bergelut untuk mengembangkan usaha yang sedang dikembangkan. cerita suksesnya tidak hanya menjadi pelecut tapi juga patut untuk disimak dan diikuti. bagaimana seorang yang DO bisa membangun usaha dan beromset sangat besar pada usia yang masih sangat muda. Menarik untuk disimak, inilah cerita dari Hendy Setiono – cerita sukses pendiri kebab baba rafi
Hanya dalam 3-4 Tahun, Punya 100 Outlet di 16 Kota Satu lagi anak muda Surabaya menorehkan prestasi besar. Dia adalah Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya tidak
hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa? Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih
dari Rp 1 miliar per bulan.
Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 23 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia. Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan. Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00.
Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya. Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan ”trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan.
Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.
Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota. “Orang Indonesia ju ga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,”jelasnya. “Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 23, dan kini sudah dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 3, dan Reva Audrey Zahifa, 2, tersebut.
Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya. ”Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya. September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya. Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya.
Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak. Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi,
lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.” Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya.
Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya. Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut. Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.
Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya. Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah
Indonesia. Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa.






















